|
Konsumsi Daging Tingkatkan Kanker
Cukup besarnya angka variasi dari tingkat penyebab kanker menurut kajian para pekerja migran menyimpulkan bahwa faktor lingkungan seperti cara makan berkaitan dengan risiko kanker. Konsumsi daging, seperti sapi, mempunyai 3 jenis variasi di seluruh dunia dengan angka konsumsi yang tertinggi di negara maju (23 kg/penduduk) dibandingkan dengan negara yang kurang berkembang (6 kg/penduduk) [1] Berdasarkan karya Richard Doll dan Richard Peto pada tahun 1981 diperkirakan bahwa sekitar 35% (sekitar 10% - 70%) penyakit kanker dapat dikaitkan dengan cara makan, sama besarnya dengan akibat rokok terhadap kanker (30%, berkisar 25% - 40%) [2]. Konsumsi daging berkaitan dengan risiko kanker dan hal ini telah dilaporkan oleh lebih dari seratus kajian epidemiologikal di berbagai negara dengan cara makan yang bervariasi. Keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker telah dikaji dengan melihat kedua-duanya, yaitu kelompok luas yang mengonsumsi daging, dan juga kategori yang lebih baik, khususnya konsumsi daging merah, termasuk sapi, domba, babi, dan daging anak lembu, serta khususnya daging proses atau daging yang diawetkan melalui penggaraman, pengasapan, atau pengawetan. Meskipun hubungan kanker dengan konsumsi daging dapat saja dijelaskan karena pola makan yang berenergi atau berkandungan lemak tinggi (kebaratan), hal itu juga mempunyai pengaruh langsung dari unsur karsinogenik yang ditemukan dalam daging, termasuk unsur N-nitroso, heterosiklik amino, atau polisiklik aromatik hidrokarbon. Unsur N-nitroso mempunyai peranan yang besar dalam pembentukan karsinogen dalam daging [3] termasuk nitrosamino yang memerlukan aktivasi metabolis untuk dikonversi menjadi bentuk karsinogenik dan nitrosamida yang tidak membutuhkan aktivasi. Sama halnya, heterosiklik amino diklasifikasikan sebagai mutagen dan karsinogen hewan [48]. Unsur-unsur ini dan yang lainnya di dalam daging (garam, nitrat, nitrit, zat besi, lemak jenuh, estradiol) telah didefinisikan sebagai peningkat sintetis DNA dan perkembangbiakan sel, meningkatkan insulin - seperti faktor-faktor pertumbuhan, mempengaruhi metabolisme hormon, mempengaruhi kerusakan radikal bebas, dan meningkatkan kasinogenik heterosiklik amino [916], yang semuanya itu mempengaruhi pertumbuhan kanker. Artikel Penelitian yang Terkait: Artikel Penelitian Terjemahan yang membahas kasus baru berikut ini dipublikasikan di PloS Medicine: Cross AJ, Leitzmann MF, Gail MH, Hollenbeck AR, Schatzkin A, et al. (2007) Suatu studi propektif atas konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan dengan risiko kanker. PLoS Med 4(12): e325. doi:10.1371/journal.pmed.0040325 Dengan menggunakan data dari Amanda Cross dan koleganya, sebuah studi kelompok besar telah menemukan bahwa baik konsumsi daging merah dan daging proses berkaitan erat dengan kanker usus besar (colorectum) dan paru-paru. Kanker Usus Besar Studi paling menghebohkan yang berkaitan dengan konsumsi daging adalah kanker usus besar. Dalam studi ekologikal, hubungan antara konsumsi daging per kapita secara internasional dengan tingkat kanker usus (r > 0.85) dan tingkat kematian (r > 0.70) cukup tinggi. Sama halnya, meningkatnya risiko kanker usus besar berkaitan dengan konsumsi daging merah dan daging proses telah diteliti dalam studi kelompok dan pengendalian kasus. Sebuah kajian tahun 1997 yang berkaitan dengan hal ini yang disponsori oleh Dana Penelitian Kanker Dunia dan Institut Penelitian Kanker Amerika menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah kemungkinan meningkatkan risiko kanker usus besar, sedangkan daging proses mungkin meningkatkan risiko kanker usus besar [19]. Konsensus yang sama juga dilaporkan oleh Panel Kanker Usus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[20] dan Kelompok Kerja Diet dan Kanker pada Komite Obat dari Kebijakan Nutrisi dan Makanan [21]. Dalam meta-analisa kanker usus besar baru-baru ini, termasuk studi yang dipublikasikan hingga tahun 2005 [2224], ringkasan terkait menyimpulkan bahwa konsumsi daging merah meningkatkan risiko 28%35%, sedangkan daging yand diproses meningkatkan risiko dari 20%49%. Kanker Jenis Lain Sebagai tambahan, sejumlah besar studi telah menguji keterkaitan antara konsumsi daging dan risiko kanker perut. Dalam sebuah meta-analisa baru-baru ini, meskipun hasilnya berasal dari kasus pengendalian berbanding kasus kelompok yang cukup beragam [25]. Sedikit studi yang kurang konsisten telah dilaporkan terhadap kanker kandung kemih [26,27], kanker payudara [28,29], endometrium [30], glioma [31], pankreas [3234], prostat [35], dan sel ginjal [36]. Hanya ada sedikit kajian yang berkaitan antara konsumsi daging dengan kanker paru-paru [37,38], kerongkongan [39], rongga mulut [40,41], peranakan [4244], mulut kelamin [45], dan hati [41]. Kebanyakan studi yang ada menguji tempat-tempat tersebut secara kasus per kasus, dan beberapa studi terdahulu kurang ada penyesuaian terhadap konsumsi energi atau indeks masa tubuh, dua kunci utama penentu. Sebuah Studi Baru tentang Berbagai Tempat Kanker Dalam penerbitan PLoS Medicine, Amanda Cross dan rekan-rekannya mengemukakan penemuan mereka dari sebuah kajian kelompok yang berprospektif besar terhadap konsumsi daging merah dan daging proses di berbagai tempat [46]. Analisa mereka berdasarkan propektif Institut Kesehatan Nasional (NIH)-AARP (yang sebelumnya dikenal sebagai Pensiunan Asosiasi Amerika) Studi Diet dan Kesehatan yang mencakup hampir 500.000 laki-laki dan wanita di Amerika Serikat yang diantaranya ada lebih dari 53.000 kasus kanker. Untuk kanker usus besar, risiko kenaikan 24% berkaitan dengan konsumsi daging merah sebanyak 62,5 g/1.000 kcal dan risiko kenaikan 20% berkaitan dengan konsumsi daging proses sebanyak 22,6 g/1.000 kcal ditemukan di antara laki-laki dan wanita yang relatif sama dengan ringkasan risiko relatif pengamatan dalam meta-analisa sebelumnya [2224]. Para peneliti juga menemukan kenaikan konsumsi daging merah yang sangat berpengaruh dengan naiknya risiko peningkatan 20% - 60% untuk kanker kerongkongan, hati, dan paru-paru. Untuk daging proses, terjadi risiko kenaikan 16% kanker paru-paru yang diamati. Daging merah dan daging proses berkaitan dengan naiknya risiko kanker pankreas pada laki-laki saja. Hasil penemuan dari Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP menegaskan penemuan-penemuan sebelumnya dari kanker usus besar. Namun demikian, sebuah persamaan positif dengan kanker perut banyak terlihat dalam pengawasan kasus per kasus yang dilakukan terdahulu yang tidak ditemukan dalam Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP. Risiko relatif untuk kanker perut secara primer dinyatakan nihil dalam studi bersama yang dilakukan terdahulu dibandingkan dengan studi kasus per kasus, dan dengan demikian hasil kajian Peneltian Diet dan Kesehatan NIH-AARP tentang kanker perut konsisten dengan studi bersama yang dilakukan bersama sebelumnya. Lima Makalah Kunci dalam Pembahasan Larsson dkk, 2006 [22] Suatu meta-analisis mengenai penelitian epidemiologis daging dan kanker kolorektum yang menggunakan suatu teknik peramalan hasilnya kurang tepat untuk diteliti kembali dan pemilihannya cenderung menyimpang. Larsson dkk., 2006 [25] Suatu pengamatan kualitatif dan kuantitatif langsung mengenai kajian kontrol kasus dan kajian kohort pada kanker perut dengan perhatian pada konsumsi daging yang diproses mungkin mengandung zat yang bersifat karsinogen yang lebih tinggi dibandingkan jenis daging lainnya. Missmer dkk., 2002 [28] Dalam penelitian ini, konsumsi daging dan risiko kanker payudara diperiksa dengan mengumpulkan data dari delapan kajian kohort prospektif, penelitian itu mengijinkan analisa berbagai perhatian dan sub kelompok populasi. Sekumpulan analisa kurang tepat untuk diterbitkan yang menyimpang dibandingkan meta-analisis dari literatur yang diterbitkan. Sinha R (2002) Suatu pendekatan epidemologis yang meneliti heterosiklik amina. Mutat Res 506507: 197204. Artikel ini menjelaskan perkembangan dari sebuah kumpulan data untuk memperkirakan konsumsi heterosiklik amino, sebuah kontributor potensial penting tentang hubungan antara daging dan risiko terkena kanker dari data kuesioner frekuensi makanan. Sinha R, Norat T (2002) Memasak daging dan risiko terkena kanker. Publikasi Ilmiah IARC 156: 181186. Suatu pengamatan umum mengenai hubungan antara daging dan risiko kanker, dengan pengamatan khusus pada teknik memasak. Dalam penelitian Palang Merah dan rekan-rekannya, konsumsi daging yang lebih tinggi dihubungkan secara positif dengan risiko terkena kanker paru-paru, hati, tenggorokan, dan pankreas, mirip dengan penemuan dari beberapa [32,3740,4752] tetapi tidak semua [33,41,5358], kajian kontrol kasus dan kohort sebelumnya. Suatu hubungan terbalik dengan kanker endometriosis telah diamati di Penelitian Makanan dan Kesehatan NIH-AARP yang sangat berbeda dengan laporan yayasan positif dalam meta-analisa terbaru oleh Elisa Bandera dkk. [30]. Meta analisis ini didasarkan pada 16 kajian kontrol kasus, diantara yang dapat diteliti kembali dan seleksi tidak bisa diatur. Kelebihan dan Kekurangan dari Penelitan yang Baru Pengamatan NIH-AARP didasarkan pada prospektif informasi berkualitas tinggi makanan yang diperoleh dengan menggunakan angket frekuensi makanan yang valid (FFQ) dengan 124 pertanyaan [59]. Analisis ini diadakan hanya berdasarkan data FFQ yang mencakup konsumsi terbaru; maka dari itu, perubahan dalam konsumsi daging dan nutrisi lainnya setiap saat, seperti pola konsumsi seumur hidup, tidak dapat dievaluasi dalam penelitian NIH-AARP. Tambahan lagi, karena penelitian NIH-AARP mengukur konsumsi daging merah dan daging yang diproses dari orang dewasa, hal ini mungkin tidak mencakup waktu yang relevan untuk menerangkan zat karsinogen, yang mungkin terjadi sejak masa anak-anak, masa dewasa akhir, atau masa dewasa awal. Meskipun begitu, dalam kajian ini makanan merupakan ukuran utama dari diagnosis kanker; namun, suatu diagnosis kanker sebaiknya tidak mempengaruhi laporan konsumsi daging, mengurangi potensi penyimpangan saat pengujian kembali. Tambahan lagi, potensi terjadinya penyimpangan dalam pemilihan diperkecil sebagaimana tingkat tindakan kohort lanjutan sangat tinggi (lebih dari 95%). Lebih lanjut, penyelidikan NIH-AARP didasarkan pada ukuran peramalan berkualitas tinggi mengenai faktor lingkungan penting lainnya (misal: merokok, indek massa tubuh), waktu pengamatan yang lama (8,2 tahun), dan besarnya jumlah kasus kanker. Karena besarnya populasi, Penelitian Makanan dan Kesehatan NIH-AARP mampu menganalisa beberapa tempat terjadinya kanker secara meyakinkan, termasuk otak, tenggorokan, limfoma nonHodgkin, tukak lambung, kelenjar ginjal, dan kelenjar gondok. Banyaknya variasi konsumsi dari daging merah dan daging yang diproses di antara populasi NIH-AARP mengijinkan pengamatan dari area kanker khusus untuk dilakukan dengan kekuatan yang relatif kuat, maka dari itu penambahan yang besar bagi kekurangan literatur prospektif pada kanker yang langka ini. Untuk menjelaskan penemuan dari penelitian konsumsi daging dan kanker, hal ini harus dicatat dimana setiap orang mengonsumsi makanan yang lebih banyak mengandung daging merah dan diproses khususnya juga mengkonsumsi sejumlah besar makanan seperti mentega, kentang, biji-bijian diolah, dan susu berlemak tinggi, semua komponen diet ala barat [60]. Namun konsumsi daging merah dan diproses mungkin tidak semata-mata bertanggung jawab bagi resiko kanker yang lebih tinggi. Tambahan lagi, konsumsi daging umumnya berhubungan dengan konsumsi kalori yang lebih tinggi [61,62] dan kegemukan [63], jadi kemungkinan menemukan sisa yang memalukan. Penelitian mengarahkan pada pemahaman bagaimana makanan dan interaksi nutrisi untuk menyebabkan atau mencegah sifat karsinogenesis mungkin menyediakan pemahaman yang lebih baik mengenai arah potensi etiologis dan mungkin menjelaskan beberapa perbedaan dari hasil yang diterbitkan. Langkah Selanjutnya dari Penelitian Pengetahuan lanjutan bisa diperoleh dari penelitian pengamatan perbedaan secara khusus dari subtipe kanker spesifik. Sebagai contoh, perbedaan histologis atau tempat khusus kanker, seperti kanker payudara yang reseptor estrogen negatif atau kanker lambung jantung, mungkin semakin kuat dihubungkan dengan resiko makanan atau faktor pencegahan. Hampir sama, variasi resiko tergantung pada genotip khusus pada daerah polimorfik, umpamanya dalam gen yang terlibat pada metabolisme karsinogenik yang ditemukan pada daging, yang bisa menambah pemahaman kita mengenai peran konsumsi daging pada resiko kanker. Tambahan untuk menyelidiki konsumsi jenis makanan atau kelompok (dengan kata lain, daging merah dan diproses), penelitian masa depan juga harus menyelidiki nutrisi tertentu di dalam daging (misalnya, zat besi) atau komponen karsinogenik (misalnya, heterosiklis amina, nitrosamines) yang merupakan hasil dari teknik memasak tertentu, terutama diantara penelitian kanker yang jarang dan kurang dilakukan. Faktor lainnya, seperti pemeliharaan dan pemberian makan ternak (obat perangsang perkembangbiakan yang digunakan dalam pemeliharaan ternak di AS dan dilarang dalam industri peternakan di Uni Eropa), juga mungkin menyebabkan resiko kanker [64,65]. Sedikit penelitian telah menyelidiki praktik ini dalam analisanya, yang mungkin menjelaskan beberapa hasil yang tidak konsisten diantara penelitian itu. Kesimpulan Sebagai catatan, konsumsi daging merah dan diproses terlihat terkait secara positif dengan resiko kanker usus besar dan dubur, tenggorokan, hati, paru-paru, dan pankreas dalam kajian kohort AS yang baru dan luas yang terdiri dari 500.000 pria dan wanita. Bagaimanapun, penelitian ini menyediakan sedikit dukungan mengenai hubungan dengan area kanker lainnya. Pedoman makanan terbaru merekomendasikan pemilihan daging yang sedikit lemak, rendah lemak, atau tanpa lemak [66], sekaligus mempromosikan konsumsi daging merah dan diproses dalam jumlah terbatas. Keseluruhan, faktor resiko terkuat bagi kanker di AS adalah merokok dan kegemukan. [67]. Bagaimanapun, memahami interaksi kompleks dari makanan dengan merokok dan kegemukan, dan bagaimana makanan dan nutrisi tertentu dimetabolisme, mungkin menyediakan kunci lebih lanjut menuju etiologi dan, lebih penting lagi, pada pencegahan kanker.
|
|||