Email Arikel ini ke Teman Anda
 |
 |
19 Mei 2009
Kondisi ternak yang dikurung penyebab berbagai epidemik yang serius
Jumlah total kasus flu babi
yang dikonfirmasi di seluruh dunia mencapai 8.830 kasus di 40
negara. Kasus di Jepang terus melonjak dan jumlah kasus di
Spanyol dan Inggris sudah cukup tinggi yang mencapai lebih dari
100 kasus masing-masingnya.
Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) cenderung untuk
meningkatkan level siaga
hingga 6, yang berarti
flu babi telah menjadi
pandemik.
Masalah ini dan produksi
vaksin flu babi menjadi
fokus diskusi pada
pertemuan lima hari
minggu ini oleh
para pejabat kesehatan dari
193 negara anggota WHO.
Margaret Chan – Direktur
Umum Organisasi Kesehatan Dunia: Kehadiran virus itu
kini telah dikonfirmasikan
di beberapa negara
di belahan Bumi selatan,
dimana wabah
influenza musiman
akan segera meningkat.
Kita punya setiap alasan
untuk prihatin terhadap
interaksi virus H1N1 yang baru
dengan virus lainnya
yang saat ini bersirkulasi
dalam tubuh manusia.
Terlebih lagi,
janganlah kita lupakan bahwa
virus flu burung H5N1
saat ini masih menetap kuat
dalam unggas
di beberapa negara.
Tiada yang dapat berkata tentang bagaimana virus flu burung ini
akan berperilaku jika ditekan
oleh sejumlah besar orang
yang terinfeksi virus H1N1
yang baru.
Seperti yang telah saya katakan,
pandemi influenza
adalah ekspresi ekstrem
akan perlunya
solidaritas global.
Para ahli telah memperingatkan
kemungkinan kasus flu babi
saat ini yang berkembang
menjadi pandemik parah
seperti yang telah terjadi
tahun 1918 yang menelan
korban 100 juta orang
di seluruh dunia
hanya dalam waktu 18 bulan.
SUARA: Dr. Ann Marie Kimball MD,
spesialis penyakit baru
pernapasan di AS,
berbagi informasi dalam percakapan telepon dengan
Supreme Master Television
tentang bagaimana penyakit
yang sangat menular ini
dapat muncul dari kontak
antara manusia dengan hewan
di tempat terkurung.
Supreme Master TV (P):
Saya memahami bahwa
sejumlah epidemik virus
di masa lalu berasal dari kerajaan hewan.
Dapatkah Anda menjelaskan
mengenai hal itu?
Dr. Anne Marie Kimball –
Direktur Jaringan Infeksi Darurat, Universitas Washington,
AS (F): Ini adalah cerita yang panjang
dari berbagai patogen
yang pada awalnya
terdapat pada hewan,
dan kemudian hewan juga
mendapatkannya
dari manusia.
Jadi, ini semacam
saling menukar.
Anda pasti pernah mendengar
E. coli ON57H7, dan
tentu saja ia berasal dari sapi
menuju manusia, dan itu
mungkin berhubungan
dengan konsolidasi
pemberian pakan
di Amerika Serikat
dalam waktu 25 tahun terakhir.
Jadi, saya pikir bila Anda
kembali dan belajar dari
masing-masing kasus maka akan terlihat
adanya hubungan dengan hewan
dan sering berasal dari
hewan. Beberapa penelitian
yang telah dilakukan oleh
Organisasi Pangan dan
Pertanian (FAO), contohnya,
mengindikasikan bahwa
ketika Anda memiliki
peternakan unggas intensif
dengan ribuan
burung di dalam kandang
di tengah hunian manusia
yang sangat padat,
kombinasi tersebut
berhubungan dengan
semacam dampak ekologi
terhadap kita yaitu apa yang
kita telah hadapi
dengan flu burung – yang telah
terjadi di antara
kumpulan unggas disertai
dengan kasus flu burung pada
manusia yang 60% fatal.
SUARA:
Terima kasih kepada
Dr. Ann Marie Kimball
dan semua yang bekerja
guna mempertegas ancaman
kesehatan yang berasal
dari pembiakan hewan
untuk produksi pangan.
Kami turut berduka cita
atas kehidupan yang hilang,
dan terus berdoa demi
dampak yang minimal
dari flu babi
seraya masyarakat bersatu untuk memilih kesehatan yang
lebih baik melalui pola makan vegan
yang berkelanjutan dan aman.
Laurie Garrett
http://www.newsweek.com/id/195692/page/3
Dr Ann Marie Kimball http://depts.washington.edu/hserv/faculty/Kimball_Ann_Marie
http://www.telegraph.co.uk/health/swine-flu/5339719/Swine-flu-101-cases-now-confirmed-in-Britain.html
Pola makan tanpa produk hewani
mengurangi diabetes Tipe 2
dan kegemukan
Suatu studi oleh para peneliti
di Universitas Loma Linda
di Kalifornia, AS
menemukan bahwa segala
tipe vegetarian lebih sedikit
berisiko kegemukan
daripada pemakan daging,
dengan vegan ada di indeks
massa tubuh (BMI) rata-rata
paling rendah senilai 23,6
dibanding dengan
28,8 dari pemakan daging.
Selanjutnya,
kejadian diabetes Tipe 2
pada para vegan juga
terendah yaitu 2,9 persen
dibanding pemakan daging
yang 7,6 persen.
Hasil-hasil ini mendukung
penemuan-penemuan sebelumnya
bahwa risiko kegemukan dan
kondisi kesehatan lainnya
dapat diperkecil
dan bahkan bisa juga diobati dengan pola makan nabati.
Penghargaan kami,
para peneliti Loma Linda
atas informasi berdasarkan
fakta tentang banyaknya
manfaat kesehatan
dari pola makan vegetarian
yang welas asih.
Mari kita segera memperbaiki
kesejahteraan kita
melalui gaya hidup tanpa produk hewani.
http://www.lipidsonline.org/news/article.cfm?aid=7795
http://www.diabetesnsw.com.au/research_pages/vegetariandiet.asp
Email Arikel ini ke Teman Anda
 |
 |