Email Arikel ini ke Teman Anda
 |
 |
15
Mei 2009
Flu babi mengancam hingga
2 miliar jiwa
Dengan jumlah flu babi yang
sudah dipastikan di seluruh dunia sekitar 6.670 kasus, dan kasus
baru lainnya dikonfirmasikan di AS, Inggris, Kanada, serta yang
pertama di Belgia. Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan
bahwa hingga sepertiga, atau 2 dari 6 miliar orang di seluruh
dunia bisa tertulari. Lembaga kesehatan itu juga memperingatkan
bahwa virus flu babi bisa bermutasi menjadi bentuk yang
lebih mematikan dan mengelilingi planet ini beberapa kali.
Dari penyakit-penyakit yang
ditularkan oleh hewan kepada manusia, semakin banyak yang
dikaitkan dengan kondisi di pabrik ternak yang juga dikenal
sebagai operasi memberi makan hewan dalam kandang (CAFO). Pada
lingkungan ini, hewan dalam jumlah yang sangat besar dan
berdesakan ditambah kekurangan udara segar dan sinar matahari
melemahkan sistem kekebalan tubuh mereka dan menciptakan
lingkungan yang disukai virus. Penyakit yang berkaitan dengan
CAFO seperti Salmonela dan E. Coli yang berasal dari materi
kotoran hewan yang telah diketahui menulari manusia di seluruh
dunia.
Dalam wawancara dengan
Supreme Master Television, wartawan pemenang penghargaan dan
pengarang Amerika David Kirby berbicara tentang bukunya yang
akan terbit, “Pabrik Hewan”, yang menyajikan pengalaman mendalam
dari penduduk yang tinggal di dekat pabrik ternak di 13 negara
bagian AS.
David Kirby (L): Mata
berair, tenggorokan serak, masalah-masalah pernafasan, perubahan
suasana hati – udara yang berbau busuk membuat Anda tak senang.
Dan Anda tahu, ada jauh lebih banyak konsekuensi kesehatan
serius dari metana dan hidrogen sulfida. Asma telah dibuktikan
meningkat, terutama pada anak-anak yang tinggal di dekat CAFO.
Jadi itu adalah masalah nyata. Tingkat kematian cukup tinggi di
peternakan-peternakan ini. Baik unggas maupun babi, bisa
diperkirakan 2 atau 3% mati dari populasi dalam setiap kelompok.
Misalkan Anda punya 10.000 babi dan Anda kehilangan 3%. Jadi,
Anda akan kehilangan 300 babi selama periode kira-kira 5 bulan,
sebagian besar karena masalah-masalah yang terkait dengan
kekebalan tubuh, mungkin berkaitan dengan stres karena dikurung.
Pesan dalam buku saya adalah semua orang sebaiknya tahu dengan
pasti dari mana makanan mereka berasal. Anda setidaknya tahu
kerugian-kerugian lain yang ditukar untuk membeli sepotong
daging atau telur atau keju atau apapun itu. Bahwa ada kerugian
lingkungan dan kerugian sosial untuk menyubsidi produksi protein
itu, dan kita sebagai masyarakat dan pembayar pajak yang
membayarnya untuk kerusakan lingkungan, masalah kesehatan publik,
kebal terhadap antibiotik, dan hal lainnya yang secara harfiah
kita tanggung sebagai masyarakat.
SUARA: Kami berterima kasih,
wartawan terhormat Bapak Kirby, atas upaya pengabdian Anda untuk
membawa informasi kesehatan penting ini kepada publik. Dengan
meningkatnya kesadaran kita tentang penyakit yang berkaitan
dengan hewan, tentu pilihan makanan nabati jelas dapat memberi
daya hidup terbesar bagi semuanya.
Pola makan vegan rendah
lemak membantu penderita diabetes
Studi baru yang diterbitkan
oleh Jurnal Gizi Klinik Amerika dan dilakukan oleh para peneliti
dari Komite Dokter-dokter bagi Pengobatan yang Bertanggung-jawab
di AS menyimpulkan bahwa pola makan vegan rendah lemak
memperbaiki tingkat gula darah dan lipoprotein kepadatan rendah
(LDL) serta memungkinkan penurunan berat badan pada penderita
diabetes untuk jangka panjang. Hasil itu menunjukkan bahwa
dengan menjalankan pola makan nabati hanya selama 22 minggu,
manfaat ini bertahan setahun. Para peserta rata-rata kehilangan
4,4 kilogram, 1,5 kilogram lebih banyak daripada mereka yang
melakukan pola makan yang lazim bagi penderita diabetes. Selain
itu, perbaikan gizi juga dicatat lebih besar pada
individu-individu yang vegan.
Penghargaan kami, para
ilmuwan yang terlibat dalam Komite Dokter-dokter bagi Pengobatan
yang Bertanggung-jawab yang telah menggambarkan satu lagi alasan
baik untuk menjadi vegan. Semoga semua penyakit dikurangi
seiring kita menjalankan cara hidup yang welas asih.
http://www.pcrm.org/news/archive090430a.html
Email Arikel ini ke Teman Anda
 |
 |