23 Juni 2009

Flu babi meningkat di Asia-Pasifik

Jenis yang mematikan dari flu babi terbukti sangat berbahaya karena kini telah menyebar di 94 negara dan menulari lebih dari 52.000 orang dan menyebabkan 230 orang meninggal dunia. Dua negara lainnya, Brunei dan Iran telah mendiagnosis kasus pertama mereka terkait flu babi. Di wilayah Asia-Pasifik, Selandia Baru melaporkan ada 258 kasus baru selama minggu lalu, dan pejabat kesehatan berkata, mereka memperkirakan ada kenaikan besar pada bulan-bulan mendatang dengan kemungkinan akan bertambah 728 kasus yang perlu diperiksa. Hong Kong, Bangkok, dan Thailand masing-masing memiliki 300 lebih kasus yang dipastikan, sementara China dan Filipina masing-masing memiliki sekitar 420 kasus. Bahkan kepulauan Pasifik Selatan yaitu Samoa, Fiji, dan Papua Nugini juga terjangkit. Seperti banyak kasus pertama lainnya, perjalanan antar negara kemungkinan menjadi faktor penularan flu babi. Sementara itu, Australia sekarang memiliki lebih dari 2.400 kasus yang dipastikan setelah akhir pekan ini terdapat kematian pertama terkait flu babi, kematian kedua di luar Amerika, yaitu seorang seniman pribumi. Kekhawatiran bertambah mengenai apakah virus itu dapat lebih mematikan bagi masyarakat-masyarakat terpencil dengan masalah-masalah kesehatan lain yang relatif lebih banyak.

Kami terus berduka cita oleh kenyataan yang menyedihkan dan tren yang menelan biaya besar ini. Simpati kami kepada mereka yang telah menderita kehilangan seiring doa kami bagi orang-orang yang terjangkit flu babi agar segera pulih. Sementara itu, semoga pemerintah di seluruh dunia menerapkan kebijakan terbaik untuk melindungi kesehatan publik dengan menghentikan peternakan dan mempromosikan pola makan nabati organik untuk memenuhi daya hidup dan kesehatan bagi semuanya.

http://online.wsj.com/article/SB124561706314035211.html
http://www.canberratimes.com.au/news/world/world/general/asia-to-battle-rise-in-flu-cases/1546754.aspx
http://www.indianexpress.com/news/city-journalist-has-swine-flu-after-trip-to-australia/479595

Ketika ayam menderita, kita juga menderita

Orang-orang yang telah makan daging ayam karena mengira akan memberi manfaat kesehatan mungkin perlu memikirkannya lagi. Menurut laporan baru-bari ini dari Pusat Pengendalian dan Perlindungan Penyakit AS (CDC), unggas adalah sumber nomor satu penyakit yang ditularkan melalui makanan di AS. Hal ini karena kondisi hidup menyedihkan di dalam kurungan yang membuat penyakit itu berkembang biak dan proses produksi daging yang menyebarkannya. Dalam pemrosesan, unggas-unggas yang dipotong itu ditempatkan di dalam tangki-tangki berisi air dingin agar mayat-mayat itu tidak membusuk. Jika satu ekor terinfeksi, semua ayam di tangki itu berisiko untuk ikut menjadi tercemar dengan kotoran yang berisi bakteri seperti Kampilobakter dan Salmonella, yang sebagian bisa mematikan. Proses pengemasannya membuat masalah menjadi lebih banyak karena air dalam tangki ikut terbawa bersama daging kemasan itu. Ayam organik memiliki bahaya kesehatan yang sama, karena “organik” hanya mengacu kepada pakan ayam, bukan kepada proses pemotongannya. Pada bulan Desember 2008, produsen unggas terbesar di negara itu memohon perlindungan kebangkrutan karena fluktuasi harga pakan biji-bijian yang tidak bisa diramalkan, biji-bijian itu sebenarnya dapat dipakai untuk memberi makan langsung manusia yang kelaparan di seluruh dunia. Walaupun penjelasan tentang industri unggas dan penderitaan ayam-ayam itu benar-benar menyedihkan, kami gembira karena fakta-fakta yang mencerahkan ini diungkapkan. Marilah kita semua beralih kepada cara hidup yang paling berkelanjutan – ditinjau dari segi kesehatan, ekonomi, dan lingkungan – cara hidup vegan!

http://www.cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/foodborneinfections_g.htm
http://abcnews.go.com/Business/TheBigMoney/Story?id=7875742&page=2