05 Juni 2009

Pengalaman langsung dengan pabrik ternak mengubah petani menjadi vegetarian

Walaupun dibesarkan dalam lingkungan pemakan daging, Ibu Helen Reddout, seorang petani ceri dan ketua Asosiasi Masyarakat untuk Pemulihan  Lingkungan (CARE) di Yakima Valley Washington, AS, mengatakan bahwa melihat kerusakan dan kekerasan di industri peternakan telah membuat dirinya memutuskan untuk tidak mendukung peternakan lagi.

Helen Reddout – Ketua Asosiasi Masyarakat untuk Pemulihan  Lingkungan (CARE) (P): Dulu saya benar-benar pemakan "daging dan kentang", hingga pada satu saat dalam perjalanan saya ke pasar di Sunny Side, saya harus melewati tempat peternakan susu dan daging sapi. Saat Anda berjalan sejauh dua mil di sana, Anda dapat melihat bagaimana hewan ini diperlakukan dan mencium baunya serta melihat debunya yang kadang begitu buruk hingga Anda harus menyalakan lampu di siang hari karena begitu tebal. Sekitar setahun setelah itu, saya mulai berpikir, menjadi pembeli komoditi ini sama artinya dengan  mendukung operasi mereka.

SUARA: Ibu Reddout sudah tidak makan daging apapun atau produk susu selama 20 tahun, dan tetap bahagia dengan pilihannya.

Helen Reddout (P): Saya sendiri heran, ternyata sama sekali tidak sulit. Malah tubuh saya seperti menanggapinya dengan positif.

SUARA: Helen Reddout menjadi bagian dari tren yang sedang berkembang dari orang-orang yang terganggu oleh keadaan buruk peternakan hewan, dia mengatakan bahwa yang terbaik adalah pola makan nabati yang penuh kasih dan ramah-lingkungan. Sementara itu, flu babi yang merupakan dampak lain dari peternakan hewan wabahnya semakin meluas sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempertimbangkan untuk menyatakannya sebagai pandemi dalam beberapa hari ini. Dengan total kasus mendekati 20.000 di 67 negara dengan sekitar 120 orang telah meninggal dunia. Di Australia ada lebih dari 870 orang sakit yang menjadikannya sebagai negara dengan jumlah tertinggi di luar Amerika Utara.

Kami berterima kasih, Ibu Reddout dan Asosiasi Masyarakat untuk Pemulihan  Lingkungan atas rasa kasih dan pilihan cerdas Anda untuk kehidupan yang bebas daging. Duka kami bagi mereka yang telah kehilangan keluarganya karena terkena flu babi. Kami juga berharap agar seluruh operasi peternakan hewan segera ditutup seiring dengan meningkatnya kesadaran orang-orang di mana pun tentang keamanan akan kesehatan dan mental dari pola makan nabati.

http://video.google.com/videoplay?docid=1524225764500964289
http://www.upi.com/Top_News/2009/06/03/Woman-may-be-Vas-first-swine-flu-death/UPI-17451244070506

Kelaparan di Asia Selatan mencapai tingkat kelaparan di tahun 1960

Sebuah studi oleh Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) telah menemukan bahwa hanya dalam dua tahun, jumlah orang yang kelaparan di Asia Selatan telah naik sebesar 100 juta. Saat ini, sedikitnya sepertiga dari orang-orang di Afghanistan, Bangladesh, Bhutan, India, Maladewa, Nepal, Pakistan, dan Sri Lanka menderita kelaparan. Dengan lebih dari satu miliar orang yang hidup dengan kurang dari US$2 per hari, kenaikan harga-harga makanan dan bahan bakar membuat semakin banyak orang tidak mungkin mendapatkan cukup uang untuk membayar pengeluaran mereka. UNICEF menyarankan agar pemerintah-pemerintah mengurangi belanja militer mereka, dan dananya dipakai untuk mengamankan pangan, kesehatan, dan pendidikan. Sementara itu, wartawan penyelidik Inggris George Monbiot menulis bahwa jika kita peduli terhadap kelaparan dunia, maka kita harus makan lebih sedikit daging, ikan, dan susu. Di tahun 2008, biji-bijian yang diberikan kepada ternak cukup untuk menutupi kekurangan pangan global hingga 14 kali lipat.

Penghargaan tulus kami, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bapak Monbiot yang telah membagikan wawasan tentang situasi menakutkan di Bumi kita. Kami berdoa agar pola makan nabati dijalankan oleh setiap orang di Bumi.

http://www.abc.net.au/news/stories/2009/06/03/2587918.htm?section=world http://www.guardian.co.uk/uk/2002/dec/24/christmas.famine http://www.guardian.co.uk/commentisfree/2008/apr/15/food.biofuels