|
06 Januari 2010 Tembakau dan alkohol dinilai lebih berbahaya daripada beberapa obat terlarang Ketua Badan Penasihat Penyalahgunaan Obat (ACMD) Kerajaan Inggris, Profesor David Nutt dari Imperial College London mengusulkan sistem baru untuk mengategorikan obat terlarang yang akan dilihat dari kerusakan fisik dan sosial yang disebabkannya, juga seberapa jauh mereka menyebabkan kecanduan. Menurut metode ini, alkohol dan tembakau akan berada pada tingkat yang lebih membahayakan dibandingkan cannabis, yang biasanya dikenal sebagai ganja, LSD, atau obat terlarang yang disebut ekstasi. Banyak terima kasih, Profesor Nutt dan Kerajaan Inggris yang telah membawa kesadaran akan tingkat kerusakan yang dapat disebabkan oleh apa yang disebut intoksikan legal. Semoga dunia kita segera terbebas dari zat berbahaya seperti ini demi kesehatan dan kebahagiaan semua orang.
http://www.france24.com/en/node/4912856 Penelitian di Belanda menghubungkan alkohol dan tembakau dengan kanker tertentu Sebuah kajian dilakukan oleh para peneliti di Universitas Maastricht di Belanda yang melacak gaya hidup dan kebiasaan pola makan dari 120.000 orang dewasa selama 16 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa merokok meningkatkan risiko dua bentuk kanker perut utama hingga 260%, juga dua bentuk kanker kerongkongan. Sementara itu, mereka yang minum alkohol setara dengan dua hingga tiga gelas anggur setiap hari hampir lima kali lebih mungkin mengembangkan satu jenis kanker kerongkongan. Terima kasih kami kepada para peneliti Universitas Maastricht atas informasi yang menyoroti jelasnya pengaruh merugikan dari alkohol dan tembakau. Semoga semakin banyak orang memilih gaya hidup penuh semangat yang terbebas dari zat berbahaya. http://www.reuters.com/article/idUSTRE5BU2V420091231 Kecerdasan lumba-lumba hampir sama dengan manusia Penelitian perilaku menunjukkan bahwa lumba-lumba lebih cerdas daripada simpanse, sementara penelitian lain menunjukkan mereka mempunyai kepribadian berbeda yang mempunyai kesadaran diri, mengerti bahasa berbasis simbol, dan berpikir tentang masa depan. Para ilmuwan lebih lanjut mengamati bahwa mamalia laut ini adalah hewan berbudaya yang dapat mempelajari perilaku yang baru dan meneruskanya ke lumba-lumba lain. Satu penelitian terbaru dilakukan oleh Profesor Lori Marino dari Universitas Emory di Georgia, Amerika Serikat dengan menggunakan pencitraan resonansi magnetik untuk memetakan otak lumba-lumba hidung botol dan membandingkannya dengan primata. Dia menyimpulkan, jika sesuai dengan ukuran tubuh, otak lumba-lumba hanya setingkat di bawah otak manusia. Dr. Marino menambahkan secara moral tidak dapat diterima untuk mengurung, memakan, atau menganiaya hewan secerdas ini. Profesor etika Thomas White dari Universitas Marymount di AS sepakat akan hal itu dan menyatakan, "... Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa lumba-lumba adalah 'orang non-manusia' yang memenuhi syarat untuk berdiri sebagai individu-individu bermoral." Profesor Marino, Thomas, dan semua peneliti, kami dengan tulus menghargai karya Anda dalam mengungkapkan betapa cerdas, cemerlang, dan penuh cintanya lumba-lumba itu. Semoga kita semua memberikan martabat yang layak kepada lumba-lumba dan tentu juga kepada setiap makhluk, memberikan hormat dan perhatian yang sangat layak mereka terima.
http://www.telegraph.co.uk/science/science-news/6927152/Free-flipper-argues-scientist.html BERITA PERINGATAN... http://www.sciencedaily.com/releases/2009/12/091203090057.htm
|
||||||||||||